Kamis, 01 Mei 2014

Cerpen : GANTUNGLAH CITA-CITAMU SETINGGI BINTANG



GANTUNGLAH CITA-CITAMU SETINGGI BINTANG
Aldi merupakan salah satu siswa dari SMA PELAJAR di salah satu kota kecamatan di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Ia merupakan salah satu siswa yang rajin dan pandai. Ia selalu menjadi bintang kelas sejak awal masuk SMA. Tahun 2014 ini merupakan tahun terakhirnya di bangku SMA, karena pada tahun 2014 inilah ia melaksanakan UN yang diselenggarakan oleh pemerintah se-Indonesia. Hasilnya pun sangat memuaskan. Ia menjadi juara paralel UN se-Kabupaten Kudus. Ia mempunyai keinginan untuk melanjutkan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dari kecil Aldi sudah bercita-cita menjadi seorang dokter karena tugasnya yang mulia yaitu menyelamatkan nyawa orang lain. Alasan yang lain yaitu ketika neneknya sedang sakit kritis, neneknya tidak mendapatkan perawatan yang intensif, sehingga neneknya pun meninggal. Sejak saat itu ia berjanji agar kejadian seperti itu tidak dirasakan oleh orang lain. Namun saat ini ia masih merasa bingung karena perekonomian keluarga yang tidak mendukung.
“Simbok, kulo cita-citanipun dados dokter ingkang saged nulung tiyang”, ucap Aldi.
“Aku ngono setuju-setuju wae le, tapi siji permasalahane….”, balas simbok
“inggihImbok, kulo ngertos, tapi pripun kaliyan cita-cita kulo? Kulo pengin dados tiyang ingkang bermanfaat kagem liyan, selain niku kulo nggih pengin sanget saged mulyakke simbok, adik-adik”, balas aldi.
“Tapi kan bisa nganggo cara liya to le, ora mesti dadi dokter. Aku banget senenge yen awakmu dadi dokter, tapi pye maneh le.. simbok lan bapak ora bisa ngragati”, ucap simbok
“Kan kulo sampun daftar Bidik Misi mbok”, jawab aAldi
(keduanya saling terdiam, Aldi menunduk sedih)
“Lha  saiki karepmu pye le? simbokmu iki wis tuwa, ora pengalaman”, Tanya simbok
“Mekaten simbok, sak niki kulo  nyuwun ridhanipun simbok. Menawi simbok ridha kula badhe nekat ndherek tes. Insya Allah menawi simbok ridha, Allah nggih ridha”, jawab Aldi
“Lha karepmu arep sekolah ning endi le? Kapan tese?”, balas simbok
“Wonten Universitas Indonesia Jakarta mbok.., tesipun tanggal 17 Juni
“Lha kok adoh banget..”, keluh simbok
                         Sejak saat itu Aldi bertambah semangat belajar. Walaupun setiap harinya ia harus membantu orang tuanya berjualan, namun ia tetap meluangkan waktu untuk belajar. Ia pun juga bertambah semakin rajin menabung. Entah kenapa aldi sangat yakin bahwa ia akan diterima di FK-UI, ia mempunyai suatu prinsip yaitu KEJARLAH APA YANG PERTAMA KALI KAMU CITA-CITAKAN, KARENA CITA-CITAMU YANG PERTAMALAH YANG AKAN TERWUJUD. Namun tentunya harus diimbangi dengan usaha dan doa.
                         17 Juni tinggal 3 hari lagi, Aldi bersiap-siap untuk pergi ke Semarang untuk mengikuti tes SBMPTN. Ia membuka tabungannya untuk transport ke Semarang, Alhamdulillah uangnya masih lebih kalau hanya untuk transportasi. Untuk masalah tempat tinggal dan makan ia tidak susah karena ia mempunyai channel kakak kelas yang ada di Semarang dan ia bisa tinggal dikosnya. Ia berpamitan dengan simbok, bapak dan adik-adiknya. Ia hanya minta doa dan ridho kedua orang tuanya.
                         Baru pertama kali ini ia ke Semarang. Ia berangkat bersama teman dekatnya waktu SMA. Sesampai di terminal Terboyo ia dijemput oleh kakak kelasnya dan diajak kekos. Pada malam hari sebelum tes ia melakukan solat hajat untuk meminta agar Hajatnya tersebut terkabul dan mendapatkan yang terbaik. Hari H pun tiba, ia bersiap untuk berangkat. Tak lupa ia mempersiapkan keperluannya, sarapan terlebih dahulu karena sarapan sangat penting untuk kesehatan, dan yang paling penting yaitu sebelum berangkat ia menelepon orang tuanya terlebih dahulu untuk meminta ridho dan keikhlasannya.
                         “Teeeet…. Teeeet… teeeet…” bunyi bel 3 kali itu menandakan bahwa waktu ujian telah selesai. Ia sangat bersyukur karena ujian berjalan lancar.
                         Keesokan harinya ia sudah sampai diKudus lagi. Ia kembali melakukan aktivitas seperti biasa ditambah lagi sekarang ia mengajar di TPA setiap sorenya  sambil menunggu pengumuman hasil tes sbmptn.
Hari ini adalah pengumuman hasil tes SBMPTN. Ia hanya bisa tawakkal kepada allah, siap menerima apapun hasilnya. Ia berharap semoga allah memberikan apa yang terbaik untuk dirinya, keluarga, dan tentunya orang lain. Karena fasilitas di desanya tidak memungkinkan untuk ia dapat membuka pengumuman, maka ia pergi ke kota kecamatan. Ia mengunjungi salah satu warnet yaitu CITRA. Disitu ia benar-benar pasrah kepada Allah. Ia membuka laman pengumuman sbmptn kemudian memasukkan nomor tes dan password. Dan yang muncul :
“SELAMAT ANDA LULUS”
Seketika ia tidak dapat berkata-kata,ia hanya bisa meneteskan air mata. Disitu ia langsung pulang ke rumah.
                         “Simboook, simboook…”, sambil berlari
                         “Ana apa to le???”, gugup keluar dari dapur
Dengan spontan aldi mencium tangan simboknya sambil berkata,
                         “aku lulus mbok, aku lulus…”
                         “lulus apa?? Kepriwe maksute??” sahut simbok
                         “aku bisa jadi dokter, aku lulus ujian…”
                         Simbok tercengang kemudian langsung mencium kedua pipi Aldi. Dalam hati simbok terharu, bangga, senang, sedih, bercampur jadi satu. Ketika bapak pulang dari kerja, simbok langsung memberi kabar gembira itu. Setelah itu mereka sujud syukur bersama. Bapak aldi kesehariannya hanya bekerja sebagai tukang becak, sedangkan simbok bekerja sebagai pedagang gorengan tiap pagi di pasar. Aldi merupakan anak pertama dari 4 bersaudara.
Hari berlalu begitu cepat. Hari H-3 untuk registrasipun datang. Karena saking kurang mampunya keluarga Aldi, untuk transport Aldi ke Jakarta  simbok hutangkan ke tetangganya. Keberangkatan Aldi ke Jakarta juga diantar oleh salah satu tetangga dekatnya yang baik hati yang berprofesi sebagai guru SD. Sebelum Aldi berangkat ke Jakarta pada malam harinya keluarga Aldi mengadakan manaqiban terlebih dahulu dengan niatan syukuran dan meminta keselamatan, kelancaran semua urusan aldi dan keluarga. Pada malam itu juga aldi diberi petuah dari simbok, bapak, dan keluarganya. Salah satu petuahnya yaitu aldi harus tetap menjaga aqidahnya, ia benar-benar dilarang untuk menganut aqidah-aqidah lain yang tidak jelas.
                         Waktu berangkat tiba. Aldi berpamitan kepada semua keluarga dan para tetangganya. Pada saat berpamitan pada simbok, Aldi mencium kedua tangan simbok sambil meneteskan air mata. Simbok pun berkaca-kaca dan tidak bisa berkata-kata. Aldi berjanji akan segera kembali dengan kesuksesan ada digenggamannya. Ia pun berjanji ketika sukses nanti ia akan memberangkatkan haji simbok dan bapak. Ia akan membuktikan walaupun anak dari tukang becak, tukang gorengan, dengan usaha, doa dan semangat yang tinggi bisa sukses seperti anak orang-orang kaya bahkan melebihinya.
                         UI di depan mata. Ia merasa bangga menjadi mahasiswa UI. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Selain pandai dalam bidang  akademik, ia juga aktif dalam berbagai organisasi. Pada tahun ke-2 ia berhasil menjabat sebagai ketua hima Pendidikan Dokter UI. Walaupun dari desa namun ia mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi. Ia pun juga sering melakukan berbagai penelitian bersama dengan teman-temannya guna untuk mengembangkan ilmu-ilmu terbaru. Dengan adanya penelitian tersebut ia sering mendapatkan imbalan yang jumlahnya cukup lumayan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap harinya ia juga berdagang berupa makanan ringan intra kampus, berdagang barang via online, menerima orderan, membuka percetakan, dan lain-lain hingga ia pun dapat membeli motor sendiri. Dengan kesibukan urusan duniawi, ia pun hampir lalai dengan nasehat simbok (urusan ukhrowi). Hingga pada suatu hari ia ditelepon oleh simbok dan ia baru tersadar. Seketika itu ia menangis, meminta ampunan Allah, dan ia meminta maaf kepada simbok karena tidak bisa menjaga amanahnya.
                          Tak terasa empat tahun sudah ia kuliah. Asam, manis, dan pahitnya kehidupan telah ia lalui. Saat wisuda pun tiba, simbok dan bapak pergi ke Jakarta yang pertama kalinya guna menghadiri wisuda tersebut. Aldi merasa kurang puas dengan hasilnya, karena ia masih kalah berprestasi dengan temannya yang berasal dari kota. Namun ia tak putus harapan, ia sadar bahwa ia tidak hanya berfokus pada akademik saja. Ia pun juga menyadari bahwa ketika lulus yang ditanyakan bukan IPK berapa namun kebermanfaatan ilmunyalah yang dipertanyakan.
                         Setelah wisuda S1  dengan gelar sarjana kedokteran, Aldi meneruskan kuliah profesinya (KOAS). Walaupun masih dalam status dokter muda, namun ia sangat bahagia karena sebentar lagi cita-citanya akan terwujud yaitu menjadi seorang dokter yang Insya Allah akan bermanfaat untuk orang lain. Selama ia sedang KOAS ia terus mengembangkan usaha-usahanya.
                         Dua tahun berlalu, ia telah lulus dari kuliah profesinya. Ia telah menyandang gelar dr. Aldi Zaenal. Karena ia termasuk mahasiswa yang ulet dan banyak teman, ia pun mengajukan lamaran kerja ke rumah sakit Harapan Kita dan Alhamdulillah diterima. Ia sangat bersyukur kepada Allah. Mulai saat itu setiap bulan ia selalu mengirim uang ke orang tuanya guna untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah adiknya. Ia sempat melarang bapaknya untuk tidak bekerja sebagai tukang becak  lagi, namun focus terhadap pertaniannya saja. Tapi bapaknya tidak mau, beliau tetap ingin bekerja sebagai tukang becak sambil mengurus sawahnya. Setiap pulang kerumah, aldi selalu berpesan kepada adik-adiknya, TULISLAH MIMPI-MIMPIMU, GANTUNGLAH SETINGGI BINTANG, JANGAN GANTUNG SETINGGI LANGIT KARENA  DIATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT. TUNJUKKAN PADA DUNIA KITA BISA!!! Semua itu tentunya dibarengi dengan usaha dan doa. Karena MAN JADDA WA JADDA. Ketika itu memang yang terbaik untukmu dan Allah meridhoi, Insya Allah di dunia ini tiada yang mustahil.
                         Sejak saat itu keluarga Aldi hidup berkecukupan. Karena prestasi kerja Aldi, ia pun mendapatkan beasiswa S2 di Universiy of Oxford dengan  mengambil spesialis jantung.